Langsung ke konten utama

AYO SEHAT DI MUSIM WABAH COVID19 DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI!


  

Nubdati Ikromah
Halo! Bagaimana kabar kalian? Bagaimana masa karantina? Apakah menyenangkan? Aku harap kita semua selalu diberikan kesehatan dan pemikiran yang selalu positif. Lama sekali aku tidak membahas sesuatu di instagramku dan untuk kali ini aku pengen membahas melalui blog karena ini akan sedikit panjang dari biasanya. Oke aku gabakal bahas tentang corona disini, yaa aku tau banget pasti kalian udah jenuh. Hayu cuss aja langsung!Bahasan ini mengenai pentingnya menjaga kesehatan fisik dan psikis atau yang sering kita sebut mental untuk menghadapi wabah ini. Kenapa harus keduanya? Jadi manusia itu adalah makhluk yang holistic menurut teori holism. Teori ini mengemukakan bahwa manusia adalah kesatuan dari dua elemen yang ada, yaitu jiwa dan badan, kita bisa memaknai jiwa sebagai mental dan badan sebagai fisik yang nampak, keduanya saling berkaitan, kalo badan kamu sakit bisa jadi mental kamu ikut sakit. Jadi intinya manusia itu harus sehat mental dan sehat raga, apalagi di musim wabah ini.Indeonesia sudah menjalani karantina kurang lebih tiga minggu, semua orang diminta untuk stay at home atau dirumah aja, jadi semua pekerjaan dan kewajiban yang harusnya dilakuin diluar harus dilakuin didalam rumah, ini dilakukan buat mengurangi rantai penyebaran Covid19 itu. Okelah, sudah lama ya kita karantina? Jenuh? Bosan? Bahkan stress? Kalo aku bilang wajar kalian setuju ga? Yap menurut aku ini wajar banget, terus sebenernya bagus ga sih buat kesehatan kita?Sebelumnya kita pahami dulu apa itu sehat raga dan sehat mental. Sehat raga deidefinisikan  ketika individu tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit, semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak melangalami gangguan. Sedangan sehat mental didefinisikan oleh Karl Meniger sebagai kondisi dimana individu yang sehat mental adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki hidup yang bahagia. Nah udah dapet point nya? Jadi keduanya itu penting, terus next, gimana kita menjaga kondisi fisik supaya tetep sehat di musim wabah ini? Kalian bisa cek disini yaOke ini adalah intisari pembahasan kita nih, bagaimana cara merawat kesehatan mental di musim wabah, sebenarnya udah banyak banget influencer yang ngasi tips-tips mengenai kegiatan apa yang harus dilakukan biar ga stress dan jenuh, tapi aku yakin banget kalian penasaran kenapa harus itu? Mungkin pembahasan disini lebih condong pada pembahasan yang sedikit teoritis, jadi temen-temen tau kenapa sih ko begitu?, biar temen-temen bisa memberikan edukasi buat orang tersayang.  Dari definisi sehat mental kita bisa ambil satu kalimat, yaitu ‘kemampuan menahan diri’ , kita kaitin sama keadaan kita sekarang kuy. Menahan diri itu apa sih? Yaaa ini yang sedang kita lakuin, berdiam diri dirumah dan melakukan semua aktivitas dirumah. Terus menahan diri seperti apa lagi yang bisa kita lakuin biar mental kita tetep sehat? Kontrol diri teman-teman, meskipun jenuh dan stress tapi bisa kok di kontrol. Dengan cara apa? Kita lakuin coping stress atau penyesuaian stress atau bisa kita sebut cara biar kita lepas dari stress. Nah ini bakal aku bahas secara psikologis ya, jadi respon individu terdahap stressor yang masuk itu berbeda-beda gais tapi kalian bisa lakuin coping dengan langkah-langkah berikut
  1. Pertama, nilai terlebih dulu stress yang sedang kamu alami atau dikategorikan misalnya kamu sekarang nih masih jenuh banget dirumah dan pengen keluar tapi gabisa terus jadi kesel sendiri dan marah tapi gatau mau gimana, itu tandanya stress kamu belum terlalu parah dan masih bisa diatasi. Terus perkirakan bahaya apasih yang bakalan kamu hadapin kedepannya, masi pake contoh stress diatas ya, kalo misal kamu stress dan ga melakukan coping gimana ya? Karantina gatau sampe kapan, emang kamu mau stress gini terus? FYI kalo kamu menumpuk stress bisa jadi kamu semakin parah dan muncul penyakit mental, gamau kan? Makannya yuk coping!
  2. Kedua, kamu bisa memutuskan tindakan apa yang paling mungkin dilakuin. Nah ininih, kamu mulai scroll ig, youtube, facebook atau social media lainnya yang bisa ngasi informasi kegiatan apasih yang menarik buat dilakuin dirumah. Kamu bisa cari refrensi dengan kamu search #dirumahaja , banyak banget kegiatan yang menginspirasi.
  3. Ketiga, lakukan tindakan yang terarah. Jadi gini, kalian kan udah ada refrensi mau ngapain aja terus kalian atur waktu deh kapan bisanya dan lakuin sekiranya sampe kalian menemukan titik dimana kalian udah ngerasa balik lagi mood nya atau kalian udah ngerasa bahagia. Misalkan, aku kemarin-kemarin juga feel so stress karena #dirumahaja dan banyak banget tugas yang harus diselesaikan. Terus aku lakuin step-step diatas, jadi aku kan suka makeup, terus aku putusin deh aku pengen makeup in muka aku. Walaa ini bukan magic tapi bener-bener work, setelah aku selesai makeup tu happy banget rasanya, tentu selama makeupin diri sendiri aku sambil nyalain musik yang enak dan bikin enjoy, terus juga sambil ngobrol sendiri ala beauty vlogger yang sedang menceritakan kondisi stress nya, jadi itu semacam curhat sama diri sendiri tapi aku ungkapin. Itu sangat bekerja, coba ayo!
  4. Terakhir, lakukan feedback. Feedback disini maksudnya kamu nanyain sama diri kamu sendiri ‘segini udah cukup belum? atau harus ngelakui hal lain buat ngilangin stress?’.
Youppp itu sih tips coping ala psikologi. Terus.. kita telaah bahaya kalo misal kita memelihara stress dan tidak melakukan coping. Dalam jurnal ilmiah yang berjudul The Effects of Stress on Prospective Memory: A Systematic Review” mengungkap bahwa memori prospektif mengacu pada proses yang diarahkan ke masa depan, ini dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu perencanaan, retensi, kinerja, dan evaluasi. Memori ini juga dapat dipengaruhi oleh stress, nah pokok bahasan jurnal itu adalah stress dapat mempengaruhi kinerja memori tersebut. Oke penjelasan itu cukup membuat kita paham kenapa kita harus melakukan coping. Ketika seseorang menyimpan sebuah memori yang menjadi stressor bisa jadi kemampuan memori prospektif itu meningkat atau menurun. Nah memori prospektif ini kan berkaitan dengan masa depan, kalo misal kita menimbung stressor tentu itu bisa membuat kinerja memori prospektif menjadi buruk. Nah kalo kinerja memorinya buruk bakal kaya gimana sih? Bisa jadi kamu ga sehat mental loh dan muncul penyakit mental. Penyakit mental seperti apasih yang bisa muncul? Penyakit mental itu adalah gangguan anxiety (kecemasan) , gangguan psikosomatik, somatoform, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau lainnya. Nah yang paling rentan dan berbahaya di musim wabah ini adalah gangguan psikosomatis, karena gangguan ini bisa saja gejala yang muncul mirip dengan gejala pasien Covid19. Ko bisa gitu ya? Oke aku bakal jelasin itu. Psikosomatik adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif atau masalah emosi. Nah kalo misal pikiran kamu dipenuhi dengan perasaan insecure tertular covid19, bisa jadi kamu mengalami gejala covid19 tapi sebenernya itu bukan, bisa jadi itu kesalahpahaman yang diterima otak kamu mengenai informasi yang sebenernya. Ada banyak kasus begini dan itu membuat tenaga medis resah, kuy makannya kita lakuin coping stress biar ga berujung begitu. Mungkin segitu dulu yang bisa aku jelasin. Terimakasih, semoga kita semua selalu sehat jiwa dan raga! Salam cinta dari aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkembangan Emosi Remaja

A.       Keadaan emosi masa remaja Pada masa remaja keadaan emosi dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” , badai tekanan adalah masa dimana ketegangan emosi meninggi dikarenakan perubahan fisik dan kelenjar pada remaja. Pertumbuhan pada tahun awal berjalan meskipun berjalan sedikit lambat, pertumbuhan ini bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk pada masa puber. Penjelasan ini diperoleh dari kondisi social yang mengelilingi remaja masa kini. Meningginya emosi mereka bisa dikarenakan mereka berada dibawah tekanan social dan menghadapi keadaan baru dan mereka tidak mempersiapkan hal itu pada masa kanak-kanak. Menurut Harlock tidak semua remaja mengalami periode ini, tetapi memang betul sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan social yang baru. Misalnya kita ambil satu contoh, dalam kasus percintaan adalah masa yang cukup complicated pada...